PUNCAK - Di tengah lanskap perbatasan RI-PNG yang keras, ikatan kemanusiaan terjalin erat. Personel Satgas Pamtas RI–PNG Yonif 732/Banau, melalui program bertajuk 'Sahabat Banau', kembali menunjukkan dedikasi tak terhingga kepada masyarakat. Kali ini, fokus mereka tertuju pada lingkungan gereja di Kampung Mamere, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Kamis (15/1/2026).
Dipimpin langsung oleh Serda Jimmy, prajurit Pos Jenggeren berbaur dengan warga dalam sebuah karya bakti yang menyentuh hati. Bukan sekadar membangun pertahanan fisik, namun lebih dari itu, mereka turut serta merawat pusat spiritual masyarakat. Rumput liar yang tumbuh liar disingkirkan, kawat pagar yang kendur dikencangkan, dan bagian pagar yang rapuh diperbaiki dengan teliti. Lingkungan gereja yang menjadi saksi bisu perjalanan iman warga, kini kembali tertata rapi dan aman.

Lebih dari sekadar perbaikan fisik, kegiatan ini adalah jembatan emosional yang kuat. Ia menumbuhkan benih persaudaraan, mengikis jarak antara seragam loreng dan pakaian sehari-hari, menciptakan rasa kebersamaan yang tulus.
“Selain menjaga kedaulatan wilayah, kami juga berkewajiban hadir dan menyatu dengan masyarakat. Membantu merawat rumah ibadah adalah bentuk penghormatan kami terhadap nilai-nilai spiritual warga serta upaya membangun kebersamaan dan kedamaian di wilayah perbatasan, ” ungkap Kapten Inf Tanamal, Danpos Jenggeren, menegaskan esensi dari tugas kemanusiaan yang diemban.
Kehangatan kepedulian ini tak luput dari perhatian masyarakat. Bapak Krey, seorang tokoh masyarakat Kampung Mamere, tak kuasa menahan haru.
“Kami sangat tersentuh dengan perhatian bapak-bapak TNI. Mereka datang dengan sukarela dan bekerja tanpa pamrih. Ini membuktikan bahwa TNI bukan hanya penjaga perbatasan, tetapi juga saudara kami yang peduli. Gereja ini adalah pusat kehidupan rohani kami, sehingga bantuan ini sangat berarti, ” tuturnya, suaranya bergetar penuh syukur.
Melalui setiap tindakan nyata seperti ini, Satgas Pamtas RI–PNG Yonif 732/Banau terus membuktikan komitmennya. Mereka hadir bukan hanya sebagai penjaga, tetapi sebagai bagian integral dari masyarakat perbatasan, merawat harmoni sosial, mempererat tali persaudaraan, dan bersama-sama membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Wartamiliter)

Jefri Jayapura