MIMIKA - Di tengah bentangan alam Papua yang menantang dan jauh dari keramaian kota, Tentara Nasional Indonesia (TNI) hadir bukan sekadar sebagai penjaga garis depan kedaulatan bangsa. Lebih dari itu, mereka menjelma menjadi denyut nadi kemanusiaan, merajut kedekatan dengan masyarakat melalui pengabdian yang tulus dari hati. Di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (19/1/2026), jejak langkah prajurit TNI terasa jelas, menyentuh langsung denyut kehidupan warga.
Tak terhalang oleh medan yang sulit atau keterbatasan akses, para prajurit ini merangkul masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial. Mulai dari senyum lega yang tersungging saat pelayanan kesehatan menjangkau daerah terpencil, semangat belajar anak-anak Papua yang didampingi dengan sabar, hingga kepalan tangan yang bersatu membangun jembatan sederhana, sarana air bersih, dan rumah ibadah. Kehadiran mereka adalah bukti nyata bahwa jarak tak menjadi penghalang, justru menyatukan hati dan semangat untuk tumbuh bersama.
Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa inti dari setiap tugas TNI di bumi Cendrawasih adalah pendekatan humanis.
“Kami bekerja dengan hati. TNI hadir di Papua bukan semata menjaga keamanan, tetapi juga membantu masyarakat, mendengarkan kebutuhan mereka, serta membangun hubungan persaudaraan yang tulus dengan rakyat Papua, ” ungkap Mayjen Lucky Avianto, memancarkan keyakinan.
Beliau menambahkan, kepercayaan yang terjalin erat dengan masyarakat adalah kunci utama untuk menciptakan stabilitas keamanan yang kokoh dan berkelanjutan. Maka tak heran, setiap prajurit di lapangan dibekali dengan semangat persuasif, penghormatan mendalam terhadap adat istiadat lokal, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa kompromi.
“Keamanan sejati tidak hanya dibangun dengan kekuatan, tetapi dengan kepercayaan. Ketika masyarakat merasa dilindungi dan dihargai, maka situasi yang aman dan kondusif akan tumbuh secara alami, ” lanjut Mayjen Lucky Avianto, menekankan pentingnya ikatan batin.
Pendekatan teritorial yang dijalankan TNI di Papua bukan sekadar menjalankan tugas negara. Ia adalah jembatan emosional yang mempererat hubungan antara aparat dan masyarakat. Para prajurit ini turut merasakan denyut nadi kehidupan sehari-hari warga—bergotong royong di ladang, berbagi cerita di bawah naungan pohon, dan bersama-sama mencari solusi atas persoalan sosial di lingkungan sekitar. Ini adalah wajah TNI yang sesungguhnya, merangkul dan merawat.
Dengan kerja nyata yang konsisten dan penuh empati, TNI tak henti-hentinya berkomitmen hadir sebagai pengayom dan sahabat sejati bagi seluruh rakyat Papua. Langkah ini adalah fondasi kokoh untuk mewujudkan Papua yang damai, maju, dan sejahtera, sebuah cita-cita yang terus diperjuangkan bersama.

Jefri Jayapura